Penulis : Ummu Abdullah Al-Butoni *)
————————————————————-
pengantar ind. F.B. :
andaikata wahabi ditujukan kepada orang yang anti tahlilan, anti muludan, anti barjanjian, anti sholawatan, anti marhabaan, anti akikah dihari ke40, anti usoli, anti qunut, anti sholat hajat, anti ustadz dukun, anti jimat, anti dzikir berjamaah, anti wirid yang jumlahnya ribuan, anti muhasabah berjamaah, anti bersekutu dengan jin, MAKA SAYA ADALAH WAHABI. walaupun saya sendiri tidak pernah mengenal siapa sebenarnya Muhammad bin Abdul Wahab.
Tulisan dibawah ini cukup sama dengan pengalaman pribadi saya, yang selalu dituduh si PERSIS (ormas Persatuan Islam) padahal menginjakan kaki di masjid persis-pun baru 2 kali, itupun karena saya kesiangan jumatan. lebih parah lagi sekarang berkembang istilah wahabi, yang katanya faham yang dipopulerkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, yang sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak pernah tahu nama itu sebelumnya, tapi dengan serta merta sayapun menjadi si wahabi.
————————————————————-
Tulisan ini asli (tanpa diubah sedikitpun), dikutip langsung dari http://kampungsunnah.wordpress.com
Seiring dengan perjalanan kedewasaan menuju proses pematangan diri, terlebih lagi pemikiran, gairah untuk mencai ilmu yang shahih, lebih mengenal agama Islam dari sumber-sumbernya yang asli, menjadi semakin tinggi. Perkenalan tanpa sengaja dengan manhaj salaf nyaris seolah mencuci otak, memutarbalikkan pemahaman hingga apa yang tersisa dari pemahaman terdahulu nyaris menjadi tanpa arti.
Sebenarnya bukanlah hal yang aneh, jika gairah itu kemudian timbul. Ketidakmampuan diri dalam mengelola dan memecahkan persoalan hidup secara memuaskan membuat agama yang semula menjadi pelarian untuk menenangkan diri, justru terbukti menjadi sumber mata air jernih pelepas dahaga. Itulah solusinya, pemahaman yang benar untuk menuju keseimbangan hidup sebagaimana manusia diciptakan diatas fitrahnya.
Satu hal yang menjadi konsekuensi dari proses ini adalah sebuah perubahan nyata. Perubahan yang sangat mungkin – bahkan terbukti – banyak menyelisihi kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Meskipun perbedaan itu dalam tahap tertentu masih dapat ditoleransi, namun pada saat-saat lain ada hal-hal prinsipil yang membuat gerah dan menimbulkan keinginan kuat untuk merubahnya,
Perbincangan dengan seorang sahabat seputar persoalan kehidupan beragama menimbulkan sebuah komentar yang mengejutkan, “Dasar Wahabi!” Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan nada bercanda namun pernyataan itu membekas dalam hati. Benarkah aku seorang Wahabi?
Sejauh ini pengenalan akan seorang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – dimana orang-orang yang mengikutinya dinisbatkan kepada namanya menjadi Wahabi – teramat sangat minim. Proses pembelajaran yang selama ini dilalui dan yang pemikirannya banyak mempengaruhi dan merubah alur berpikir, yang mendorong untuk terus mempelajari agama ini dari sumbernya yang asli, Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman para sahabat, adalah seorang tokoh besar Ibnu Qayyim al Jauziyah, salah seorang murid terbaik ulama sekaliber Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan bukannya Syaikh Muhammad bin Abdul wahab.
Lalu apakah karena alur pemikiran yang sejalan, orang juga akan mengatakan bahwa Ibnu Qayyim dan gurunya Ibnu Taimiyah – yang hidup jauh sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – adalah pengikut Wahabi?
Baru kemudian teringat perbincangan dengan seorang teman yang lain, dan memang itulah yang dituduhkan kepada Ibnu Taimiyah, bahwa beliau ada seorang wahabi!
Sungguh aneh, bahkan sangat lucu. – jika tidak ingin dikatakan bodoh – Ibnu Taimiyah yang lahir tahun 661 H – 728 H dituduh sebagai wahabi, dengan kata lain sebagai pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir jauh sesudahnya yaitu pada tahun 1115 H?.Siapa yang mengikuti dan siapa yang diikuti? Dengan menggunakan logika berpikir yang paling sederhana pun tuduhan itu akan terlihat sangat menggelikan!
Terlepas dari perdebatan seputar siapa mengikuti siapa, ada rasa penasaran yang mendorong untuk mencari tahu lebih lanjut, siapa sebenarnya seorang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Para ulama berkata, kenalilah seseorang melalui tulisannya. Dan itulah yang saya lakukan, mulai mencari tulisan-tulisan beliau, mencari tahu dimana letak momok menakutkan yang membuat orang begitu alergi terhadap beliau.
Adalah Kitab Tahuid, sebuah karya monumental beliau, dan kemudian disyarah oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh, kitab Tiga Landasan Utama yang disyarah oleh Syaikh Utsaimin, serta Menyingkap Argumen Penyimpangan Tauhid, yang seluruhnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Komentar… ? Subhanallah!
Jika tuduhan wahabi dilekatkan kepada mereka yang membenci pengangungan kuburan, termasuk kuburan orang-orang shalih, maka aku adalah seorang wahabi!
Jika label wahabi dilekatkan kepada mereka yang berdakwah untuk memurnikan tauhid, seperti firman Allah : ”Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun“ (QS Al Mu’minuun : 59), maka aku adalah seorang wahabi!
Jika istilah wahabi disandarkan kepada mereka yang mengharamkan berdo’a kepada selain Allah mengikuti firmanNya : ”Dan janganlah kamu berdo’a kepada selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Yunus : 106) , maka aku ada seorang wahabi!
Jika seorang wahabi adalah mereka yang selalu berusaha menjauhkan segala macam kesyirikan sebagaimana firman Allah , ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.“ (QS An Nisa : 48), maka aku adalah seorang wahabi!
Jika sebutan wahabi dinisbatkan kepada mereka yang percaya bahwa Nabi Muhammad SAW tidak dapat memberikan syafaat melainkan dengan seizin Allah SWT sebagaimana firmanNya, ”Katakanlah: (hai Muhmmad) “Hanya kepunyaan Allah lah syafaat itu semuanya..“ (QS Az Zumar : 44) dan firmanNya : ,“ Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.“ (QS Al Baqarah : 255), ataupun firmanNy, ”Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu..“ (QS Saba : 23), maka aku adalah seorang wahabi!
Jika tuduhan wahabi dilontarkan kepada mereka yang mengharamkan segala jenis pengagungan atau keberkahan benda-benda dan tempat-tempat keramat, jimat, guna-guna termasuk segala ritual yang terkait dengannya, maka aku adalah seorang wahabi!
Jika tudingan wahabi ditujukan kepada mereka yang berusaha mengenal Allah, agama Islam dan Nabi Muhammad SAW dengan lebih baik dan mendalam seprti yang dituliskan dalam kitab Utsuluts Tsalasah (3 Landasan Utama), maka aku adalah seorang wahabi!
Dan masih ada banyak jika semisalnya yang dinisbatkan kepada mereka yang dianggap wahabi, yang secara menyeluruh berupaya memurnikan kalimat tauhid laa ilaaha illallah beserta segala aspek yang terkait dengannya berikut konsekuensinya, maka alhamdulillah, saksikanlah aku telah menjadi seorang wahabi!
Sungguh yang perlu dipertanyakan kepada mereka yang berpandangan ”miring” dan cenderung meremehkan ketika memberi cap kepada seseorang sebagai wahabi, manakala semua jika diatas dikumpulkan dan dipertanyakan kepada diri masing-masing, kalimat apakah yang akan tertera mengikuti kata maka sebagai konsekuensinya? Karena menolak semua jika diatas maka keimanan akan persaksian terhadap kalimat tauhid yang selalu diulang dalam setiap shalat, perlu dipertanyakan.
Bahkan sesungguhnya bukanlah yang memecah belah ummat ini dakwah untuk menegakkan tauhid – sebagaimana inti dakwah para nabi -melainkan dakwah lemah lembut yang membiarkan agama ini bercampur dengan segala kemusyrikan, adat istiadat, kepercayaan, bid’ah dan khurafat dengan dalih menghindari perpecahan ummat.
Wallahu a’lam
*) ini adalah sebuah pengalaman pribadi penulis dalam perjalanan menempuh kebenaran, dan saya mengenalnya dari room chat di Yahoo (buldozer)

8 comments
Comments feed for this article
April 11, 2007 pada 7:42 am
narimo
wahabi dimaksudkan adalah golongan orang yang mengaku pencinta rasul, tetapi mencoba melupakan sejarah rasul dan melarang orang mengekspresikan cintanya kepada rasul.
wahabi adalah sebutan untuk orang yang suka menyebut saudara muslimnya sesat dan kafir padahal nabi saja murka ketika melihat sahabatnya membunuh lawan yang mengucap sahadat walaupun sambil “cengengesan”/tidak serius. nabi menyapa dengan keras bahwa umat islam tidak diperintahkan untuk membelah hati dan melihat kadar keimanan,
wahabi adalah sebutan untuk orang yang melihat islam adalah hitam putih, ada dan tidaknya contoh secara leterlek, tekstual. pada hal ayat Allah bukan hanya tekstual
—————————————-
dari ind. F.B. :
Jika ekspresi cinta kepada rosul harus dilakukan dengan bentuk peringatan maulid nabi, yang sebagian besar yang melakukannya menganggapnya sebagai ibadah dan wajib dilakukan, juga merasa berdosa jika tidak melakukan. dengan berat hati saya lebih baik dikatakan wahabi, walaupun saya tidak mengenal Muhammad bin Abdul Wahab.
Jika hitam putih yang dimaksud adalah sebuah bentuk ketegasan dari penegakan syari’at islam dalam rangka mensyiarkan islam sesuai qur’an dan sunnah, maka dengan berat hati saya lebih baik dikatakan wahabi, walaupun saya tidak mengenal Muhammad bin Abdul Wahab.
Mei 4, 2007 pada 4:25 am
aku salafy
AKU ADALAH WAHABI.Aku membaca, memiliki banyak kitab yang ditulis syaikh muhammad dari kitabuttauhid, ushul tsalatsah, syarh kasyfusy syubhat,kitab beliau yang berjudul qowa’idul arba’a pun aku telah tau isinya,,aku tidak minder dibilang sesat karena salaf tidak sesat!!
ibnu taimiyyah,,beliau adalah ulama yang jenius..sapa yang tidak kenal beliau? orang2 yang benci dan merasa Gerah, iri terhadap pengikuti sunnah hanya bisa menghina yang menjalankannya.
Para shahabat adalah murid rasululloh,,mereka tidak merubah makna dalam al qur’an. jika samar, mereka mengembalikan kepada sunnah.
kenapa orang menghina syaikh muhammad padahal beliau hafal Qur’an dalam usia 7thn,,beliau banyak belajar ke ulama2..lahir dari Annajd, lalu dengan bantuan pemerintah Su’ud,,beliau berhasil menegakan tauhid nama arab saudi pun dari pemerintah yang melindungi dakwah Syaikh.semoga Alloh meninggikan beliau di ‘illiyyin.
yang mengkafirkan&mengatakan sesat berdasarkan dalil&sunnah,dan kaidah2 lain memang wahabi..tapi jika tanpa itu maka itu khawarij.
nabi memang marah ketika da shahabatnya yang membunuh padahal yang dibunuh mengatakan kalimat tauhid,,nabi mengatakan dibunuh jika jelas amalannya melanggar kalimat tauhid.boleh dibunuh o/penguasa bukan golongan&itu pun jika dia meninggalkan syari’at islam.yang dilakukan shahabat tsb memang salah,,namun nabi pun memarahi dengan keras!
janganlah engkau membebani kami dg kata mengkafirkan&mencap “sesat” karena beban itu sangat berat u/ kami pikul. jika kami asal mengkafirkan tanpa Hujjah yang jelas,,kamilah yang mendapatkan kafir..
aku adalah SALAFY yang selalu orang2 mengatakan wahabi!
————————-
dari ind. fb :
terima kasih komentarnya. saya sangat sepaham dengan anda, mudah-mudahan mata hati “mereka” dibukakan untuk menerima kebenaran, walaupun mungkin pahit bagi “mereka”.
Juli 19, 2007 pada 8:15 am
harun
wahabi,salafi, ASWJ,……??????, belajr dlu lah yang bnyak, ga usah menyebut diri wahabi atau menyebut org lain apa. Hidup ini adalah proses, dan manusia dalam hidup ini harus terus belajar.
Demikian juga dalam beragama,….Yang terpenting sesama uamt islam saling menjga persatuan dan kesatuan, Jujur saja aku bukan wahabi atau apa, yang jelas aku org islam, mengenai tahlilan atau apapun yang dianggap bid’ah aku tidak pedulikan kata org….Yang penting aku percaya dgn apa yg aku lakukan, karena nanti yg akan dihisab kan diri kita masing2 dengan amal perbuatan masing2, so……why we must fight together????????
Buakankah nabi kita sama, Tuhan kita sama????……Cobalah difikir lagi….
Trimakasih…..Wasslam
————–
dari ind. f.b. :
terima kasih sahabatku harun. memang salah satu tugas kita adalah belajar terus-menerus, termasuk didalamnya mengkaji tentang agama. bang harun, ibadah terutama ibadah mahdoh harus dilakukan dengan benar, sekali lagi benar (bukan baik). ukuran baik adalah qur’an dan sunnah, bukan berdasarkan kepercayaan diri atau pemikiran sendiri, karena kita adalah manusia biasa. da’wah juga bukan dimaksudkan bukan untuk mencari musuh atau menciptakan pertengkaran, tetapi untuk mencari saudara dalam rangka menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
Juli 24, 2007 pada 6:18 am
narimo
wahabi adalah yang mengharamkan menggambar tetapi menyimpannya erat di dompet
wahabi adalah yang mengharamkan organisasi politik tetapi memuja kerajaan
wahabi adalah yang lahir dan besar bersama osama bin laden tetapi bersandiwara seolah saling bermusuhan
wahabi adalah yang mulutnya menghujat orang kafir tetapi dia sendiri berlindung di ketikan amerika
——————–
dari ind f.b. :
sekali lagi saya tegaskan, bahwa saya tidak pernah kenal dengan ajaran wahabi sebelumnya, sayapun tidak pernah tahu bahwa ternyata ada kelompok yang begitu anti terhadap wahabi, bahkan saya tidak pernah mengenal sedikitpun siapa sebenarnya muhammad bin abdul wahab.
namun demikian kembali saya tegaskan bahwa, jika memang wahabi dituduhkan kepada orang yang dengan teguh menjaga kemurnian qur’an dan sunah rosul, maka saya merasa lebih baik dituduh wahabi. jika memang wahabi dituduhkan kepada orang yang anti tahlilan, anti muludan, anti marhabaan, anti yasinan, anti jimat, anti manakiban, anti barjanjia, anti sholawatan, maka sekali lagi saya lebih baik dituduh wahabi.
untuk mas narimo , dengan anda menulis sifat-sifat wahabi (tentu saja itu menurut versi anda) diatas, secara tidak terasa anda juga sedang melakukan sifat-sifat yang anda sebutkan
Juli 26, 2007 pada 2:21 am
narimo
ada perbedaan antara “menuduh” dan “menyatakan” ….
————————-
dari ind. f.b :
terima kasih komentarnya……
tapi sepertinya anda hanya bermain kata-kata.
Desember 3, 2007 pada 10:53 am
Aswaja
Aha….. mau nyebarin virus TBC neh….
Maret 11, 2008 pada 5:08 am
riri kartika
aku juga sering di tuduh wahabi
dan ke banyakan orang yang menuduh tak kenal siapa wahabi…..
ah.. biarinn
dan saya setuju jika
wahabi dituduhkan kepada orang yang dengan teguh menjaga kemurnian qur’an dan sunah rosul, maka saya merasa lebih baik dituduh wahabi. jika memang wahabi dituduhkan kepada orang yang anti tahlilan, anti muludan, anti marhabaan, anti yasinan, anti jimat, anti manakiban, anti barjanjia, anti sholawatan, maka sekali lagi saya lebih baik dituduh wahabi.
sekali lagi saksikan saya wahabi
November 3, 2009 pada 5:32 am
anang gegauk
Saya pernah dicela orang-orang didaerah saya karena tidak ikut tahlilan kerabat yang meninggal. Saya bersikeras tidaki ikut karena menganggap itu bukan sunnah Rasul. Anehnya ada tetangga saya yang juga tidak ikut tahlilan tidak dicela, alasannya tetangga saya itu punya ‘ilmu’ dan pantang makan ‘nasi orang mati’ sehingga boleh saja tidak ikut tahlilan. Apakah berarti saya tergolong wahabi ? Kalaupun dianggap wahabi tak mengapa, daripada dipaksa melakukan sesuatu yang tidak memiliki dasar yang jelas dan benar sesuai syariah.