You are currently browsing the monthly archive for Desember, 2008.

Unjuk rasa buruh tiba-tiba saja menjadi headline berita di beberapa media, baik cetak maupun elektronik. Dampaknya macam-macam, dari kemacetan di jalan tol, hingga terhambatnya produksi di beberapa pabrik. Pemicunyapun sederhana, yaitu Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri, yang terdiri dari Menteri Dalam Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Peridustrian dan Menteri Perdagangan. Nama SKB itu adalah ”Pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global”.

Sekilas, tidak ada yang aneh dalam SKB tersebut, bahkan jika dilihat tugas keempat menteri yang bersangkutan, sepertinya SKB tersebut tidak perlu, karena memang hal itu sudah menjadi tugas menteri tersebut. Misal saja, Menteri Tenaga Kerja salah satu tugas yang tercantum dalam Pasal 2 SKB adalah mendorong komunikasi bipartit yang efektif antar unsur pekerja/buruh dan pengusaha di perusahaan. Jika meminjam lirik lagu Project Pop, maka kita bisa mengatakan ”Ya Iyalah, masa Ya Iyadong” pada SKB tersebut. Read the rest of this entry »

Catatan : Tulisan ini pernah dimuat dalam Jurnal Ilmiah Akuntansi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Edisi Mei 2008.

Abstract

Indonesian people more critical after reformation in Indonesia. One of criticized object is accountability and transparency in government financial management. Government Accounting Standard is one of tool that can measure of government financial management performance. This Paper would like to explain several aspect that relate to government accounting in Indonesia, that is : financial management, challenges, comparison between government accounting and commercial accounting, unique case of government accounting, development strategy, and career opportunity for accountant in government organization.

Keyword : Government Accounting.

1. Pendahuluan

Bukan suatu yang sulit ketika kita mencari orang yang faham mengenai akuntansi. Akuntansi memang sudah diajarkan sejak di SMA, bahkan ada yang mendapatkan materi akuntansi sejak SMP dalam pelajaran keterampilan jasa. Ditingkat perguruan tinggi, jurusan akuntansi juga bukan jurusan yang sulit ditemukan. Namun, jika kita melihat kurikulum akuntansi saat ini, kurikulum yang diadopsi dalam pendidikan akuntansi diberbagai tingkat, baru mengakomodir materi-materi akuntansi komersial, sedikit sekali porsi yang diberikan untuk mata kuliah akuntansi pemerintahan.

Akuntansi dikelompokan dalam beberapa konsentrasi keilmuan, Baswir (1995) mengelompokan akuntansi menjadi 3 bidang, yaitu : akuntansi perusahaan, akuntansi nasional dan akuntansi pemerintahan. Sedangkan Kusnadi, dkk (1999) mengelompokan akuntansi menjadi 11 bidang, yaitu : Akuntansi Keuangan, Pemeriksaan, Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Perpajakan, Sistem Akuntansi, Akuntansi Anggaran, Akuntansi Internasional, Akuntansi Non Profit, Akuntansi Sosial, Instruksi Akuntansi.
Berapapun banyaknya pembagian konsentrasi akuntansi, sebenarnya hanya bermuara pada 2 kelompok akuntansi, yaitu akuntansi komersial dan akuntansi pemerintahan. Sebagian orang mengelompokkannya sebagai akuntansi sektor publik, tetapi untuk konsistensi bahasa dalam artikel ini penulis hanya akan menyebutnya dengan istilah akuntansi pemerintahan.

Akuntansi komersial memang lebih beruntung, kurikulum yang ada sekarang mendukung penuh lestarinya keilmuan akuntansi komersial. Berbeda dengan akuntansi pemerintahan yang hanya dipelajari 3 sks dari 144 sks wajib, itupun dengan silabus yang belum terstruktur dengan baik, karena sampai dengan tahun 2005, Pemerintah Indonesia belum pernah menerbitkan Standar Akuntansi Pemerintahan, oleh sebab itu materi yang diberikan dibangku kuliah diadopsi dari materi akuntansi pemerintahan di Amerika Serikat, yang tentu saja belum tentu cocok digunakan di Indonesia.

Hawa segar mulai muncul ketika akhirnya diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, tulisan ini mencoba membahas berbagai aspek yang berhubungan dengan akuntansi pemerintahan. Read the rest of this entry »

Mungkin anda berbeda pendapat dengan ombig, tentu saja tidak apa-apa, ombig hanya ingin berbagi pendapat yang mudah-mudahan bisa bermanfaat. Jiwa kritis ombig sudah tumbuh sejak kecil, pada usia 4 tahun ombig kerap kali membuat orang dewasa kesal karena ombig memberikan pertanyaan yang berantai.

Saat itu ibu ombig aktif di Darma Wanita, karena bapak ombig adalah seorang PNS. Berawal dari itu muncul pertanyaan yang ombig tanyakan kepada ibu : “kenapa ada darma wanita sementara tidak ada darma pria, padahal perempuan yang PNS banyak juga”, tapi tentu saja dengan bahasa seorang anak kecil. Sampai saat ini tidak pernah ada jawaban memuaskan yang keluar dari mulut ibu ombig.

Dalam kesempatan ini ombig ingin memberikan pertanyaan, bagi para pembaca dapat juga turut menjawabnya di halaman komentar.

Pertama, dilingkungan PNS, mengapa ada DARMA WANITA tetapi tidak ada DARMA PRIA, padahal banyak sekali wanita yang jadi PNS.

Kedua, dilingkungan TNI, mengapa ada PERSIT tetapi tidak ada PERSUT (Persatuan Suami Tentara), padahal banyak juga wanita yang jadi tentara.

Ketiga, banyak organisasi wanita bermunculan tetapi tidak pernah ada satu organisasipun yang mengkhususkan diri sebagai organisasi pria.

Keempat, dengan alasan isu gender wanita menuntut jatah kursi di parlemen, pria tidak pernah menuntut jatah kursi.

ini pendapat saya :

Pertama, wanita lebih mudah dimobilisasi secara politik dari pada pria, Pemerintahan Orde Baru sangat pandai membaca situasi ini, sehingga dibuatlah Darma Wanita dengan segala kewajibannya, dari mulai wajib kursus P4 sampai dengan wajib coblos nomor 2. andai saja dibentuk Darma Pria, pasti akan lebih sulit menuntut kewajiban-kewajiban tersebut.

Kedua, tidak beda jauh dengan Darma Wanita, itu pula yang menimpa PERSIT.

Ketiga, Organisasi wanita juga tidak jauh beda, kebanyakan tujuannya sangat politis.

Keempat, menuntut jatah kursi di parlemen sama saja menunjukan bahwa wanita belum mampu bersaing secara murni. Alasan gender sangat tidak tepat dijadikan alasan untuk menuntut jatah kursi di parlemen, seharusnya gender menjadikan wanita-wanita aktivis itu lebih siap bersaing secara murni dengan laki-laki.

Dan yang pasti takdir Alloh tidak pernah salah, jangan pernah menyalahi takdir.

Siapa orangnya yang tidak pernah berbohong ? jika dijawab dengan jujur, ombig sangat yakin semua orang pernah berbohong, walaupun mungkin dengan intensitas yang berbeda-beda. Khawatirnya terkadang kita menganggap bahwa bohong itu adalah hal yang biasa, bohong diaanggap sebagai sebuah bumbu obrolan sehari-hari, bahkan tanpa bohong seolah pembicaraan menjadi kurang menarik. Yang paling ombig sayangkan, kebohongan sudah sampai menjadi bumbu para ustadz dalam ceramahnya agar lebih menarik, ironisnya banyak jemaah yang tidak peduli bahwa sedang dibohongi.

Ombig membagi kebohongan menjadi 2 jenis :
Pertama, KEBOHONGAN BERCANDA, jenis inilah yang sebenarnya paling banyak dilakukan orang. Terus terang saja ombig secara pribadi masih mentoleransi kebohongan jenis ini, selama lawan bicara kita berada dalam kondisi sadar bahwa kita sedang berbohong. Kebohongan ini biasanya ditujukan untuk menghangatkan suasana, sekedar joke-joke ringan ombig pikir tidak terlalu masalah. Tetapi kita harus hati-hati juga, pada kondisi tertentu kebohongan jenis ini juga bisa menimbulkan masalah, jadi pandai-pandailah membaca situasi dan kondisi

Kedua, KEBOHONGAN BERGANDA, jenis inilah yang sebenarnya akan menuai badai dikemudian hari. Jenis kebohongan ini biasanya tidak berdiri sendiri, satu kebohongan akan ditutupi dengan kebohongan lainnya, dan begitu seterusnya. Kebohongan ini biasanya dilakukan dengan tujuan yang tidak/kurang baik, misalnya : menutupi kelemahan diri, penipuan, fitnah, adu domba, dll. Tetapi seberapa lama kita sanggup menutupi kebohongan-kebohongan itu? pada saat belum habis ide kita untuk berbohong, orang lain sudah terlanjur kehilangan kepercayaan pada diri kita.

Ombig punya contoh kebohongan berganda yang sebenarnya bohongnya sangat sederhana dan tidak menimbulkan masalah berarti. Saat SMA ombig punya seorang kawan yang berasal dari Jakarta, pada saat kelas 3 dia sudah gembar-gembor bahwa pada saat kuliah nanti dia akan kembali ke Jakarta dan tidak mau kuliah di Bandung. Pada kenyataaanya dia kuliah di Bandung, dan kampusnyapun tidak begitu bonavide, tapi demi menutupi gengsinya dia berbohong pada setiap orang bahwa dia kuliah di Jakarta, bahkan guru-guru SMApun dia tipu juga. Suatu saat tanpa sengaja Ombig bertemu dia saat pulang kuliah, sebagai salah satu korban kebohongan dia Ombig tentu saja bertanya tentang kuliahnya. Dengan sedikit minta dikasihani dia memohon kepada Ombig untuk tidak membongkar kebohongannya kepada yang lain.

Banyak contoh-contoh kebohongan lainnya, yang mungkin menimbulkan dampak yang tidak baik bahkan merugikan orang lain. Kita harus menyadari bahwa dunia ini sangat sempit untuk para pembohong, kemanapun kita pergi rasanya selalu ada orang yang menguntit. Wallohu’alam bishowab.

Krisis multidimensi telah membawa bangsa indonesia pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Fenomena yang belakangan muncul dimedia adalah bencana alam yang tak henti-henti, gizi buruk dan kelaparan. Fenomena terakhirlah yang melatarbelakangi ombig menyusun tulisan ini.

Kejadian-kejadian diatas tentu saja tidak menimpa seluruh rakyat Indonesia, karena masih begitu banyak masyarakat Indonesia yang memadati pusat-pusat pertokoan, makan di restoran mewah, hilir mudik dengan mobil harga miliaran, bahkan menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Tetapi disisi lain tidak sedikit masyarakat Indonesia yang hidupnya sangat mirip syair lagu dangdut delapan puluhan, yaitu : “baju satu kering dibadan”, “pagi makan sore tiada”, “rumah beralas bumi beratap langit”.

2 kondisi yang kontradiktif diatas pada akhirnya membawa pada 2 jenis kematian yang menimpa masyarakat Indonesia.

Pertama, mati kekenyangan. Jika kita hitung berapa banyak orang Indonesia yang mati karena penyakit yang disebabkan makanan-makanan enak yang dimakan berlebihan, seperti diabetes, stroke, darah tinggi, dll.

Kedua, mati kelaparan. Fenomena inilah yang sangat membuat hati ombig terkejut dan meratapi kenyataan bahwa di Indonesia yang ceritanya sudah 63 tahun merdeka, yang wakil rakyatnya digaji puluhan juta rupiah, yang alamnya disebut sebagai jamrud khatulistiwa, yang tongkat kayupun bisa jadi tanaman, tetapi pada kenyatannya ada rakyatnya yang mati kelaparan. Sepertinya peribahasa ayam mati dilumbung padi sedang terjadi pada Indonesia.

Sulit juga mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi yang pasti setiap rakyat Indonesia berhak mendapatkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Jika kita menganalogikan dengan sistem militer, tidak pernah ada prajurit yang salah, jika ada prajurit yang salah maka dapat disimpulkan bahwa komandannyalah yang paling salah. Dalam kasus mati kelaparan kita tidak bisa menutup mata bahwa pemerintah adalah pihak yang paling salah. Mohon maaf dalam kasus ini ombig tidak bisa berkompromi, jika ada yang berpendapat lain, ombig tetap berpendirian bahwa pemerintah yang paling salah.

 

Desember 2008
S S R K J S M
« Agu   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

a