Siapa orangnya yang tidak pernah berbohong ? jika dijawab dengan jujur, ombig sangat yakin semua orang pernah berbohong, walaupun mungkin dengan intensitas yang berbeda-beda. Khawatirnya terkadang kita menganggap bahwa bohong itu adalah hal yang biasa, bohong diaanggap sebagai sebuah bumbu obrolan sehari-hari, bahkan tanpa bohong seolah pembicaraan menjadi kurang menarik. Yang paling ombig sayangkan, kebohongan sudah sampai menjadi bumbu para ustadz dalam ceramahnya agar lebih menarik, ironisnya banyak jemaah yang tidak peduli bahwa sedang dibohongi.

Ombig membagi kebohongan menjadi 2 jenis :
Pertama, KEBOHONGAN BERCANDA, jenis inilah yang sebenarnya paling banyak dilakukan orang. Terus terang saja ombig secara pribadi masih mentoleransi kebohongan jenis ini, selama lawan bicara kita berada dalam kondisi sadar bahwa kita sedang berbohong. Kebohongan ini biasanya ditujukan untuk menghangatkan suasana, sekedar joke-joke ringan ombig pikir tidak terlalu masalah. Tetapi kita harus hati-hati juga, pada kondisi tertentu kebohongan jenis ini juga bisa menimbulkan masalah, jadi pandai-pandailah membaca situasi dan kondisi

Kedua, KEBOHONGAN BERGANDA, jenis inilah yang sebenarnya akan menuai badai dikemudian hari. Jenis kebohongan ini biasanya tidak berdiri sendiri, satu kebohongan akan ditutupi dengan kebohongan lainnya, dan begitu seterusnya. Kebohongan ini biasanya dilakukan dengan tujuan yang tidak/kurang baik, misalnya : menutupi kelemahan diri, penipuan, fitnah, adu domba, dll. Tetapi seberapa lama kita sanggup menutupi kebohongan-kebohongan itu? pada saat belum habis ide kita untuk berbohong, orang lain sudah terlanjur kehilangan kepercayaan pada diri kita.

Ombig punya contoh kebohongan berganda yang sebenarnya bohongnya sangat sederhana dan tidak menimbulkan masalah berarti. Saat SMA ombig punya seorang kawan yang berasal dari Jakarta, pada saat kelas 3 dia sudah gembar-gembor bahwa pada saat kuliah nanti dia akan kembali ke Jakarta dan tidak mau kuliah di Bandung. Pada kenyataaanya dia kuliah di Bandung, dan kampusnyapun tidak begitu bonavide, tapi demi menutupi gengsinya dia berbohong pada setiap orang bahwa dia kuliah di Jakarta, bahkan guru-guru SMApun dia tipu juga. Suatu saat tanpa sengaja Ombig bertemu dia saat pulang kuliah, sebagai salah satu korban kebohongan dia Ombig tentu saja bertanya tentang kuliahnya. Dengan sedikit minta dikasihani dia memohon kepada Ombig untuk tidak membongkar kebohongannya kepada yang lain.

Banyak contoh-contoh kebohongan lainnya, yang mungkin menimbulkan dampak yang tidak baik bahkan merugikan orang lain. Kita harus menyadari bahwa dunia ini sangat sempit untuk para pembohong, kemanapun kita pergi rasanya selalu ada orang yang menguntit. Wallohu’alam bishowab.

Krisis multidimensi telah membawa bangsa indonesia pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Fenomena yang belakangan muncul dimedia adalah bencana alam yang tak henti-henti, gizi buruk dan kelaparan. Fenomena terakhirlah yang melatarbelakangi ombig menyusun tulisan ini.

Kejadian-kejadian diatas tentu saja tidak menimpa seluruh rakyat Indonesia, karena masih begitu banyak masyarakat Indonesia yang memadati pusat-pusat pertokoan, makan di restoran mewah, hilir mudik dengan mobil harga miliaran, bahkan menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Tetapi disisi lain tidak sedikit masyarakat Indonesia yang hidupnya sangat mirip syair lagu dangdut delapan puluhan, yaitu : “baju satu kering dibadan”, “pagi makan sore tiada”, “rumah beralas bumi beratap langit”.

2 kondisi yang kontradiktif diatas pada akhirnya membawa pada 2 jenis kematian yang menimpa masyarakat Indonesia.

Pertama, mati kekenyangan. Jika kita hitung berapa banyak orang Indonesia yang mati karena penyakit yang disebabkan makanan-makanan enak yang dimakan berlebihan, seperti diabetes, stroke, darah tinggi, dll.

Kedua, mati kelaparan. Fenomena inilah yang sangat membuat hati ombig terkejut dan meratapi kenyataan bahwa di Indonesia yang ceritanya sudah 63 tahun merdeka, yang wakil rakyatnya digaji puluhan juta rupiah, yang alamnya disebut sebagai jamrud khatulistiwa, yang tongkat kayupun bisa jadi tanaman, tetapi pada kenyatannya ada rakyatnya yang mati kelaparan. Sepertinya peribahasa ayam mati dilumbung padi sedang terjadi pada Indonesia.

Sulit juga mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi yang pasti setiap rakyat Indonesia berhak mendapatkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Jika kita menganalogikan dengan sistem militer, tidak pernah ada prajurit yang salah, jika ada prajurit yang salah maka dapat disimpulkan bahwa komandannyalah yang paling salah. Dalam kasus mati kelaparan kita tidak bisa menutup mata bahwa pemerintah adalah pihak yang paling salah. Mohon maaf dalam kasus ini ombig tidak bisa berkompromi, jika ada yang berpendapat lain, ombig tetap berpendirian bahwa pemerintah yang paling salah.

Kurang lebih 1 tahun lalu ombig mendapatkan sebuah kepanjangan plesetan dari sebuah singkatan gelar akademik yang semakin populer saja belakangan ini. Gelar itu adalah SE (Sarjana Ekonomi) dan MM (Magister Manajemen). Ketika seseorang mendapatkan kedua gelar itu maka gelar itu akan ditambahkan pada nama yang bersangkutan, contoh : Ombig, SE., MM., maka dengan dengan sekejap mata ombig menjadi orang yang punya nilai lebih dan bisa jadi lebih disegani orang lain, karena Ombig berpendidikan tingkat strata 2 yang jauh melambung diatas wajib belajar pemerintah yang hanya 9 tahun (SMP).

Tapi tahukah anda, apa kepanjangan plesetan itu? plesetannya sendiri berasal dari bahasa sunda. SE diplesetkan menjadi “Sarjana Edan”, sedangkan MM diplesetkan menjadi “Meunang Meuli”, yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Sarjana Gila Dapet Beli.

Plesetan gelar tidak hanya menimpa SE dan MM, ada juga gelar lain yang menjadi korban akademisi-akademisi tidak beradab. Gelar S.Pd yang seharusnya dipanjangkan menjadi Sarjana Pendidikan diplesetkan menjadi Sarjana Paket D, bahkan gelar ST yang bagi sebagian masyarakat dianggap sakral, karena sulitnya meraih gelar tersebut diplesetkan menjadi Sarjana Tulalit. Plesetan-plesetan itu bukan tanpa alasan, ini adalah kenyataan yang terjadi bahwa disekitar kita ternyata banyak terjadi jual beli gelar akademik.

Masyarakat awam mungkin bisa dikibulin dengan deretan gelar yang mengikuti nama seseorang, tapi bagi masyarakat lain yang tahu seluk beluk lingkungan akademik tidak mungkin bisa dikibulin begitu saja. Dan yang paling penting, hati nurani kita tidak pernah bisa dikibulin.

Sebuah logika sederhana, gelar sarjana strata 1 baru bisa didapat setidaknya dengan belajar rata-rata 140 – 160 SKS, jika dirata-ratakan mahasiswa dapat menempuh 20 SKS / semester, maka sang mahasiswa baru bisa meraih gelar kesarjanaan setelah 8 semester atau kurang lebih 4 tahun. Kalaupun ada kampus yang menerapkan sistem Tri Semester, biasanya jatah SKS maksimalnya dikurangi dari 24 SKS menjadi 18 SKS, jadi ujung-ujungnya sama saja- seorang mahasiswa harus menempuh perkuliahan selama 4 tahun.

Lalu mengapa ada yang meraih kesarjanaan dalam waktu tidak lebih dari 2 tahun?, berikut ini adalah pola-pola yang digunakan untuk menjebak calon mahasiswa :

Pertama, disebarkan brosur-brosur yang berisi jaminan lulus cepat. “3 Tahun jadi SE”, “2 Tahun jadi SH”, jangan tergiur dengan rayuan janji manis yang menyesatkan, kembalilah ke logika sederhana diatas. Kampus-kampus yang seperti ini biasanya tidak bonafid, walaupun punya izin resmi bahkan akreditasi dari BAN-PT.

Kedua, Dengan membayar sejumlah uang Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) dimundurkan kurang lebih 2 tahun, misalnya : Ombig daftar ke Kampus X tahun 2008, tetapi NPM yang Ombig dapatkan adalah NPM tahun 2006, tentu saja dengan deretan mata kuliah yang seolah-olah sudah Ombig tempuh, maka dengan aman Ombig bisa lulus pada tahun 2010. Untuk kasus seperti ini, agak sulit dilacak keborokannya, tetapi yang pasti hati nurani kita tak pernah bohong. Jika anda menemui orang yang baru kuliah tahun 2008 tapi tahun 2010 sudah lulus, bisa dipastikan pola seperti inilah yang digunakan, karena sangat mustahil kesarjanaan ditempuh dalam waktu 2 tahun. Ombig berani menjamin, orang dengan IQ jenius saja paling cepat berada dikisaran 3 tahun untuk lulus sarjana.

Ketiga, gelarnya benar-benar dijual, tanpa kuliah sedikitpun orang yang bersangkutan langsung mendapatkan ijazah. Hal ini adalah pelecehan nilai-nilai akademik dan melanggar Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Untuk kasus seperti ini aparat penegak hukum dan pemerintah harus segera bertindak.

Selain itu masih banya pola-pola lain untuk mengecoh masyarakat yang gila gelar. Tapi yakinlah, orang-orang dengan gelar bodong hatinya akan tersenyum setiap kali gelarnya disebut, karena hati nurani tak pernah berbohong.

Suatu hari seorang anak bernama Hari yang datang dari keluarga sederhana bermain bersama temannya Andi, yang datang dari keluarga kaya. kurang lebih 2 jam Hari bermain Play Station 2 (PS2). satu per satu permainan ia coba, maklum jarang sekali ia bisa main PS dengan gratis. Setelah selesai bermain iapun pulang kerumahnya yang berada dibelakang komplek rumah Andi. Di perjalanan menuju rumah, Hari bergumam dalam hatinya, “andai saja aku punya PS2 seperti Andi, mungkin aku akan jadi anak yang paling bahagia”.

Keesokan harinya giliran Andi yang bermain di rumah Hari, tidak ada PS2 atau mesin permainan elektronik murah sekalipun. Andi hanya disuguhi Mie Instant yang dimasak oleh ibunya Hari, kemudian mereka bermain burung merpati kepunyaan Hari. Setelah asyik bermain Andi-pun pulang kerumahnya. Dalam perjalanan pulang, Andi bergumam dalam hatinya. “andai saja aku punya ibu seperti ibunya Hari, yang bisa memasakkan anaknya mie instant, mungkin aku akan jadi anak yang paling bahagia”.

Dalam sudut pandang yang berbeda, kebahagiaan akan memiliki arti yang berbeda. Kebahagiaan memang memiliki relativitas yang akan tergantung dari individu masing-masing. Bahagia menurut saya, belum tentu menurut anda, begitupun sebaliknya.

Merasa gugup sebelum tampil didepan umum adalah hal yang wajar, justru itu menandakan bahwa anda sehat wal afiat, karena normalnya setiap orang selalu ada rasa gugup sebelum berbicara didepan umum, walaupun dengan intensitas yang berbeda.

Berikut ini ada beberapa tips yang dapat anda lakukan, untuk mengontrol rasa gugup dan menjadikan presentasi anda lebih berkesan.

  1. Kenali tempat dimana anda berbicara, datanglah lebih pagi untuk lebih familier dengan tempat itu. Anda dapat juga berkeliling ke setiap sudut ruangan sambil mencoba perangkat sound system.
  2. Kenali audience anda, jika mungkin hapalkan beberapa nama audience, ini akan lebih memudahkan anda untuk berkomunikasi dengan semua audience
  3. Kuasai bahan, karena jika anda tidak menguasai bahan, akan membuat anda semakin gugup, dan tentu saja kata-kata yang keluar dari mulut anda semakin sulit dikontrol.
  4. Relax, Sebelum mulai, lakukanlah hal-hal yang akan membuat anda lebih tenang, tapi tentu saja hal-hal yang wajar. Jangan sampai apa yang anda lakukan, malah memperlihatkan bahwa anda sedang gugup.
  5. Tambah terus jam terbang anda, hal inilah yang paling penting, karena public speaking bukanlah suatu hal yang bisa diajarkan secara instan, tetapi bisa distimulasi dengan pengalaman. Jangan pernah menolak kesempatan, lakukan! dan percayalah bahwa anda juga bisa.

Selamat mencoba.

 

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

a