Jika ada 1.000 orang PNS yang lulus murni
Maka saya adalah salah satunya
Jika ada 100 orang PNS yang lulus murni
Maka saya adalah salah satunya
Jika ada 10 orang PNS yang lulus murni
Maka saya adalah salah satunya
Dan jika hanya ada 1 orang PNS yang lulus murni
Harus saya tegaskan, itulah saya

Mungkin kita sudah lama mengenal idiom ini, “LULUS MURNI”, pengertiannya tidak terlalu jauh dari kata-kata pembentuknya, yaitu lulus dapat diartikan berhasil menempuh sebuah ujian, sedangkan murni dapat diartikan tidak terkontaminasi. Lulus murni sendiri dapat diartikan secara lebih gamblang, yaitu lulus menempuh ujian tanpa harus membayar sejumlah uang pelicin. Tetapi idiom ini ternyata memiliki konsekuensi logis yang cukup merugikan bangsa ini, jika ada lulus yang murni maka tentunya ada juga lulus yang tidak murni. Idealnya lulus adalah lulus, tanpa harus diembel-embeli hal-hal lain.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, ditengah krisis multidimensi seperti saat ini, masih adakah lulus murni ? untuk dinyatakan lulus sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil saja kabarnya harus merogoh kocek sekurang-kurangnya 35 sampai dengan 40 juta, itupun baru angka isu, karena saya sama sekali belum pernah mengalaminya. Terus terang saja, saya begitu kaget ketika pada akhir taun 2004 saya dinyatakan lulus sebagai CPNS, begitu banyak orang yang bertanya (bahkan dari rekan sejawat sesama PNS), berapa uang yang saya keluarkan untuk kelulusan ini. Mendengar banyaknya pertanyaan yang sama, saya sempat mengeluarkan pernyataan seperti tertulis diawal tulisan ini, bahwa jika di Negara Indonesia ini hanya ada 1 orang PNS yang lulus murni, maka orangnya adalah saya.

Pernyataan diatas sama sekali bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, pernyataan itu adalah puncak dari rasa keheranan saya, mengapa sulit sekali menemukan orang yang mempercayai kelulusan murni di negeri ini. Tetapi tentu saja kita juga tidak bisa menyalahkan opini atau persepsi masyarakat yang sudah terlanjur demikian, karena sangat dimungkinkan persepsi tersebut muncul berdasarkan pengalaman dimasa lalu yang berulang-ulang, atau juga mungkin pengalaman pribadi yang digeneralisir, sehingga jika dirinya melakukan hal itu, maka ia menganggap bahwa orang lainpun akan sama seperti dirinya.

Kemudian saya berfikir, apakah mungkin saya adalah korban dari sebuah kolusi yang sangat sistematis dimasa lalu, sehingga saya dan seluruh PNS yang lulus secara murni harus menjadi tersangka atas dosa nenek moyang yang sebetulnya sudah tidak berkuasa lagi di negeri ini. Dengan tidak bermaksud untuk menyanjung sebuah rezim dan menjelekan rezim yang lain, saya mengikuti testing CPNS kurang lebih 1 bulan setelah pasangan SBY-JK dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indenesia, dan dinyatakan lulus sebagai CPNS sebulan setelahnya. Pada saat itu masih hangat dalam pendengaran saya, ketika Presiden SBY ditelevisi mengatakan kepada para pejabat di Indonesia “JANGAN COBA-COBA KORUPSI” .

Sebuah ungkapan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sekedar gertak sambal, tetapi ternyata sangat membuahkan hasil positif dalam rekrutmen CPNS angkatan pertama di era kepemimpinan SBY. Pada masa itu ternyata banyak para petinggi yang wait and see dengan sistem yang akan digulirkan oleh SBY-JK, sehingga salah satu pejabat teras di BKN regional III Jawa Barat pernah menyatakan bahwa rekrutmen angkatan pertama di era SBY-JK ini adalah rekrutmen paling fair sepanjang sejarah Indonesia, walaupun katanya masih ada kebocoran yang presentasenya sangat kecil. Masya Alloh, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rusaknya sistem rekrutmen dimasa lalu.

Saya tidak ingin mengomentari sistem rekrutmen dimasa lalu atau dimasa yang akan datang, saya hanya ingin berbagi pengalaman yang pernah saya alami, bahwa ternyata ditengah kepahitan bangsa ini dengan isu Korupsi, Kolusi dan Nepotismenya, ternyata masih ada manis yang begitu murni. Saya juga menganggap ini adalah karunia berharga yang diberikan tuhan kepada saya, karena dalam sekejap saya diberikan rejeki sejumlah 40 juta, walaupun tidak berupa uang secara fisik, melainkan berupa kelulusan menjadi seorang PNS, yang katanya sebagian orang meraihnya dengan cara merelakan uang sejumlah 40 juta.

Wallahu’alambishawab.