Harus diakui ternyata popularitas KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) memang luar biasa. Segala yang berhubungan dengan dia selalu menjadi sorotan publik (jemaah), dari mulai ajaran Manajemen Qolbunya, tingkah laku, pakaian, sampai dengan logat bicaranya menjadi bahan perbincangan. Keputusannya untuk berpoligami ternyata menjadi berita besar di media-media, bahkan menjadi headline selama beberapa hari, dan selalu menjadi topik bahasan dalam infotainment, berita, talkshow, ceramah-ceramah, bahkan ada yang membuatkan sinetron sindiran.

Terus terang saja, sebelumnya saya harus mengakui bahwa saya adalah salah satu murid Aa Gym, walaupun mungkin Aa Gym tidak terlalu mengenal saya secara pribadi. Saya adalah Santri Siap Guna Daarut Tauhiid Bandung Angkatan Ke-3, dan pernah berkhidmat di Radio Manajemen Qolbu Bandung sebagai penyiar selama 3 tahun (September 2003 – Nopember 2006). Tetapi tentu saja dalam menulis artikel ini, saya akan berusaha berdiri pada posisi tengah alias netral.

Sebenarnya yang menjadi sorotan media dan masyarakat terbagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah keputusan Aa Gym berpoligami, yang kedua adalah poligaminya itu sendiri, yang kembali menjadi topik hangat bahkan hampir memanas setelah Aa Gym Berpoligami. Jika kita membicarakan poligami, saya yakin pasti waktu kita akan habis untuk berdebat, penyebabnya adalah peserta debat tidak satu persepsi dalam memandang poligami. Mohon maaf, dalam hal ini saya akan mengupas poligami dalam persepsi saya pribadi, dan pembaca sangat boleh berbeda pendapat.

Poligami Aa Gym

Setahu saya Aa Gym mewacanakan poligami sudah sejak lama, kalau tidak salah ingat sekitar tahun 2000 atau 2001, disela-sela ceramahnya Aa Gym cukup sering memancing-mancing respon jamaah dengan menggulirkan wacana ini. Bahkan dalam acara MQ Pagi di radio– kebetulan pada saat itu saya yang membawakan acara–, Ust. Arifin Ilham pernah bertanya kepada Aa Gym, kapan Aa akan berpoligami ?, dan Aa Gym menjawab, bahwa sebetulnya Aa sudah dapat izin dari teteh (Teh Ninih), tapi Aa-nya yang belum siap. Artinya jauh-jauh hari sebelum Aa Gym berpoligami, Aa Gym pernah membicarakan hal ini kepada istrinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa keputusan Aa Gym untuk berpoligami bukanlah keputusan yang mendadak, dan saya yakin keputusan ini diambil dengan alasan yang kuat dan penuh pertimbangan.

Alasan Aa Gym untuk berpoligami tentu saja yang tahu secara pasti adalah Aa Gym pribadi. Banyak orang yang menuduh tanpa alasan bahwa alasannya adalah nafsu syahwat, mari kita berfikir lebih lebih jernih, nafsu syahwat adalah salah satu nikmat/rahmat dari Alloh dan akan bernilai ibadah jika kita menyalurkannya dengan cara yang benar, yaitu pernikahan. Artinya dapat saya katakan sangat mustahil terjadi sebuah pernikahan tanpa adanya syahwat.

Ternyata semuanya sudah diskenariokan Alloh, kasus poligami Aa Gym berbarengan dengan mencuatnya kasus video porno Anggota DPR-RI Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Tentunya masyarakat akan merasa lebih tidak rela, jika Aa Gym memilih cara Yahya dalam menyalurkan nafsu syahwatnya. Jika anda perempuan, dan di dunia ini hanya ada dua orang laki-laki, silahkan anda memilih, Pilih Aa Gym yang berpoligami dan dengan jantan memohon izin kepada istri tuanya, atau Yahya Zaini yang dibelakang istrinya berselingkuh dengan wanita lain yang sangat mungkin tidak hanya dilakukan dengan Maria Eva.

Mari kita berhitung yang rasional saja, Aa Gym memiliki beberapa perusahaan, kabar yang saya dengan asset yang dimiliki setidaknya mencapai angka puluhan milyar. Jika kita berhitung masalah materi, saya yakin Aa Gym tidak terlalu kesulitan untuk memenuhi biaya dua rumah tangganya. Aa Gym juga seorang pemuka agama, yang walaupun ceramahnya selalu diisi materi yang ringan-ringan saja, tetapi saya yakin dalam konteks keilmuan Aa Gym sangat paham dan tahu tentang hukum-hukum islam, khususnya tentang konsep poligami. Jadi sebetulnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan, toh poligami pernah dialami pada ulama-ulama lain sebelumnya, dan tidak terlalu menuai masalah.

Setelah kejadian ini ternyata jumlah jemaah yang hadir di pengajiannya dirasakan menurun, tetapi hikmahnya adalah Aa Gym jadi tahu, mana jemaah yang berniat serius mencari ilmu, dan mana yang hanya mengidolakan sosok Aa Gym secara pribadi. Hikmah lainnya adalah tersadarnya kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh SWT, nama Aa Gym melambung terutama pada awal tahun 2000an mustahil tanpa campur tangan Alloh, dan nama Aa Gym harus jatuh pada akhir tahun 2006 –bahkan penyebabnya adalah perkara yang halal dan diperbolehkan agama—juga mustahil tanpa campur tangan Alloh.

Poligami

Poligami dalam islam (qur’an) hukumnya adalah boleh, walaupun ayatnya bukan merupakan ayat perintah atau anjuran, tetapi hukumnya tetap boleh. Artinya pelaku poligami tidak berdosa, jadi jika kita masih mengaku sebagai muslim jangan pernah sepatah katapun kita ucapkan bahwa kita menolak poligami. Jika Qur’an mengatakan boleh, maka hukumnya adalah boleh, tuntas dan tidak perlu diperpanjang mengenai hal ini, karena Qur’an adalah mutlak.

Ternyata poligamipun adalah sunah Rosululloh, dan banyak sahabat yang mengikutinya. Artinya jika kita masih mengaku umat Muhammad, maka poligami adalah sunahnya, hal ini inipun tidak perlu diperpanjang, karena mustahil apa yang dilakukan rosul salah. Ada sebuah hadist yang berisi bahwa Rosululloh pernah mengatakan, Jika Ali (Imam Ali) akan menikah lagi, maka ceraikan dulu putriku Fatimah, karena menyakitinya sama dengan menyakiti aku. Dalil inilah yang dipakai rujukan orang-orang yang menolak poligami. Perlu diketahui bahwa hadist tersebut adalah hadist yang ditujukan khusus kepada Fatimah, karena Fatimah adalah putri kesayangan Rosul, dan rosul tidak pernah ada keterangan rosul mengatakan hal yang sama untuk putrinya yang lain, padahal putrinya yang lain dipoligami oleh suaminya. Jadi hadist ini tidak dapat dijadikan rujukan untuk menolak poligami.

Lalu mengapa masyarakat Indonesia masih sulit menerima poligami ?. Menurut pengamatan langsung saya (mohon maaf tidak didukung data statistik) ada beberapa penyebab, diantaranya :

1. Kurangnya keilmuan agama menjadi penyebab utama sulit diterimanya poligami di Indonesia ;
2. Banyak poligami yang diawali dengan perselingkuhan, sehingga muncul ketidakpercayaan ;
3. Pelaku poligami kebanyakan tidak mapan secara materi, padahal dengan poligami berarti menambah beban keuangan ;
4. Pelaku poligami kesulitan menerapkan konsep adil dalam rumah tangganya.

Sebenarnya Masih banyak alasan lain yang menyebabkan sulit diterimanya poligami ditengah masyarakat Indonesia, tetapi intinya poligami adalah boleh, terlebih dengan alasan yang sangat kuat, hanya tentu saja pelaku poligami tetap harus berada pada aturan main yang berlaku dalam islam.

Wallohu’alambishowab