Tulisan ini mungkin masih mirip-mirip dengan tulisan saya yang berjudul POLIGAMI antara aturan dan penolakan masyarakat. perlu saya tegaskan bahwa saya tidak bermaksud membela orang-orang yang berpoligami, saya bukan pelaku poligami dan juga tidak (belum) berniat untuk menjadi pelaku poligami. saya hanya ingin memandang poligami dari sudut pandang yang lebih objektif sesuai dengan aturan yang berlaku.

Terus terang saya tersenyum kecut sekaligus heran ketika menyaksikan tayangn Republik BBM (11 Maret 2007), seorang wanita muslim (dapat saya pastikan karena mengenakan jilbab) yang katanya aktivis perempuan mengatakan bahwa poligami adalah termasuk KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). pertanyaan saya adalah, apakah dia tidak malu dengan jilbabnya yang notabene merupakan simbol dari seorang wanita muslimah yang taat.

berikut ini saya kutip kembali tulisan saya sebelumnya :
“Poligami dalam islam (qur’an) hukumnya adalah boleh, walaupun ayatnya bukan merupakan ayat perintah atau anjuran, tetapi hukumnya tetap boleh. Artinya pelaku poligami tidak berdosa, jadi jika kita masih mengaku sebagai muslim jangan pernah sepatah katapun kita ucapkan bahwa kita menolak poligami. Jika Qur’an mengatakan boleh, maka hukumnya adalah boleh, tuntas dan tidak perlu diperpanjang mengenai hal ini, karena Qur’an adalah mutlak.”

Jika sebuah aturan Tuhan dianggap sebagai kekerasan, tentunya perlu dipertanyakan kadar keimanan yang bersangkutan. Tuhan saja membolehkan, masa iya kita yang hanya manusia biasa melarang bahkan menganggapnya sebagai sebuah kekerasan. walaupun harus diakui, memang ada kasus-kasus poligami yang diiringi dengan KDRT, tetapi tentu saja sebagai orang yang sudah dewasa, terlebih yang mengaku dirinya aktivis dengan daya intelektual yang mumpuni tidak bisa memukul rata sebuah masalah.

Wallohu’alam bishowab