Pada pertengahan tahun 2006 penulis memutuskan untuk kembali malanjutkan studi sarjana yang sempat tertunda, dan saat itu penulis memilih melanjutkan studi di salah satu Perguruan Tinggi (PT) yang berada dibawah naungan Paguyuban Pasundan. Ketika melihat hasil konversi nilai, ada mata kuliah yang belum penulis tempuh dan tidak pernah ada di dua kampus penulis sebelumnya. Nama mata kuliah itu adalah Ilmu Budaya Daerah (Sunda) yang merupakan muatan lokal untuk PT yang bernaung dalam Paguyuban Pasundan.

Penulis sempat penasaran apa sebenarnya yang diajarkan dalam mata kuliah ini, apakah sama seperti pelajaran Bahasa Sunda yang sempat diterima di sekolah dulu. Ketika perkuliahan berlangsung, ternyata materinya berbeda dengan bahasa sunda, walaupun ada irisan dibeberapa materi. Dalam Ilmu Budaya Daerah mahasiswa diperkenalkan dengan budaya sunda yang lebih luas, dari mulai tata krama, kebiasaan-kebiasaan orang sunda, upacara adat, pewayangan, pidato dalam bahasa sunda, puisi sunda, sampai dengan mempelajari tentang ngidam (nyiram) pada wanita.

Terus terang saja, penulis adalah orang sunda asli, orang tua penulis keduanya sunda, dan setidaknya 3 atau 4 tingkat leluhur penulis tidak ada yang bukan berdarah sunda. Namun demikian, penulis merasa sangat awam ketika diperkenalkan dengan budaya sunda yang sesungguhnya, padahal mungkin materi yang disampaikan baru kulit luarnya saja.

Bahasa Sunda

Baru-baru ini diperingati hari bahasa ibu internasional, jika kita mengaku sebagai orang sunda, mungkin yang paling tepat dikatakan sebagai bahasa ibu adalah bahasa sunda. Yang patut disayangkan, orang sunda banyak yang malu menggunakan bahasa sunda, atau bahkan menganggap bahwa bahasa sunda adalah bahasa yang kampungan.

Anak-anak ABG lebih merasa gaya atau trendi jika menggunakan kata elu gue dalam berkomunikasi dengan temannya, bahkan yang lebih parah lagi dilingkungan keluargapun sama sekali tidak dikenalkan dengan yang namanya bahasa sunda. Lebih menggelikan lagi ketika kita menyaksikan seorang anak ABG yang sehari-hari memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan ema kepada ibunya dan apa kepada bapaknya, tetapi ketika dihadapan teman-temannya dengan sekejap panggilan itu berubah menjadi mama dan papa.

Dalam dunia pendidikan, sepertinya pelajaran bahasa sunda juga menjadi sesuatu yang bukan favorit. Ditingkat pendidikan tinggi dapat dikatakan tidak ada PT yang menawarkan jurusan bahasa sunda selain Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Padjadjaran (Unpad), itupun dengan peminat yang tidak terlalu banyak, mungkin ini dikarenakan minimnya peluang kerja bagi sarjana bahasa sunda, meskipun demikian tentunya kita semua berharap 2 Perguruan Tinggi tersebut tetap konsisten dengan tetap menyelenggarakan jurusan bahasa sunda.

Lalu apa yang menyebabkan generasi muda semakin enggan menggunakan bahasa sunda dalam kesehariannya ? salah satu faktornya adalah terlalu banyaknya aturan (undak usuk basa) yang terkadang membuat pusing dan pada akhirnya menimbulakan resistensi terhadap bahasa sunda. Mungkin kita pernah mengalami, ketika orang tua kita berkata bahwa lebih baik menggunakan bahasa indonesia dari pada bahasa sunda kasar. Kalau boleh meminjam istilah kang ibing ketika siaran disalah satu radio swasta, justru lebih baik kita menggunakan bahasa sunda walaupun sedikit kasar, dari pada tidak bisa sama sekali. Pada intinya, jangan pernah ada rasa malu atau merasa kampungan ketika kita menggunakan bahasa sunda, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan bahasa sunda.

Akankah Budaya Sunda Tinggal Kenangan ?

Saat ini semakin sulit saja mencari orang-orang yang mengerti tentang dunia kesundaan, sekolah-sekolah yang diperuntukan bagi pendidikan kesundaan sepertinya belum terlihat efektivitasnya sebagai kawah candradimuka sundaisme. Tanda-tanda bahwa budaya sunda akan menjadi tinggal kenangan sepertinya sudah semakin terlihat.

Pertama, coba hitung ada seberapa banyak wanita yang masih mengenakan pakaian kebaya khas sunda, mungkin diseputaran Kota Bandung kita hanya akan menemukan dalam hitungan jari saja, itupun dengan usia yang tidak kurang dari 60 tahun. Sebaliknya kita akan menganggap sebuah lelucon, jika ada wanita muda yang masih mengenakan kebaya dalam kesehariannya. Wanita-wanita sunda masa kini hanya mengenakan kebaya ketika ada acara seremonial, seperti pesta pernikahan atau perayaan hari-hari besar. Walaupun hanya bersifat seremonial nilainya masih lumayan dibandingkan hilang sama sekali.

Kedua, silakan tanyakan kepada putra/putri anda seberapa banyak mereka hafal tokoh-tokoh pewayangan. Penulis pernah mencoba melakukan hal ini, dan paling bagus mereka hanya hafal tidak lebih dari sepuluh tokoh wayang saja. Padahal jika lihat lebih jauh, dalam dunia pewayangan tidak hanya mengandung unsur hiburan, tetapi terkandung juga unsur pendidikan.

Ketiga, Setidaknya ini terjadi ketika penulis mengikuti kelas Ilmu Budaya Daerah. Dosen yang bersangkutan memberikan tugas kepada mahasiswa untuk mencari tahu tentang bulan-bulan sunda dan bulan-bulan islam dalam waktu satu minggu, hitungan waktu yang cukup banyak untuk mencari jawabannya. Tetapi ternyata tidak sedikit mahasiswa yang masih salah dalam menuliskan jawabannya.

Keempat, seberapa banyak orang sunda yang mampu membaca tulisan sunda kuno, sunda arab, atau sunda jawa. Jangankan mampu membacanya, mungkin melihatpun ada yang belum pernah. Sepanjang pengetahuan penulis, hanya tasikmalaya saja (mudah-mudahan ada juga daerah lainnya) yang menuliskan nama jalan diwilayahnya dengan menyertakan tulisan sundanya.

Kelima, mungkin anda tidak terlalu sulit menyusun konsep pidato atau membuat puisi dalam bahasa indonesia, tapi cobalah sesekali membuat pidato atau puisi yang berbahasa sunda. Bagi anda yang tidak terbiasa, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap mudah.

Keenam, instansi tempat penulis bekerja berlangganan surat kabar berbahasa sunda, ternyata kebanyakan pegawai agak kesulitan dalam memahami tulisan-tulisan berbahasa sunda, setidaknya memerlukan waktu untuk berfikir makna sebuah kalimat yang dibaca. Padahal dalam berkomunikasi sehari-hari hampir semua pegawai mampu berbahasa sunda.

Ketujuh, penulis melihat para tokoh kesundaan usianya sudah semakin senja, tetapi disisi lain belum terlihat bibit muda yang akan menggantikannya, tetapi mudah-mudahan saja segera tergantikan. Dalam hal ini pendidikan atau pengajaran tentang kesundaan harus didukung dengan lingkungan yang juga bisa menghargai segala sesuatu tentang kesundaan.

Tujuh contoh diatas tidaklah menunjukan urutan yang hierarkis, hanyalah indikator-indikator yang terlihat dengan kasat mata, tanpa harus dikaji dengan keilmuan yang mendalam. Tentunya kita berharap budaya sunda tidak akan hanya tinggal kenangan, dan ini adalah tugas kita yang masih mengaku orang sunda untuk tetap melestarikannya.***

Wallahu’alambishawab.
bahasa indonesia, tapi cobalah sesekali membuat pidato atau puisi yang berbahasa sunda.  Bagi anda yang tidak terbiasa, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap mudah. Keenam, instansi tempat penulis bekerja berlangganan surat kabar berbahasa sunda, ternyata kebanyakan pegawai agak kesulitan dalam memahami tulisan-tulisan berbahasa sunda, setidaknya memerlukan waktu untuk berfikir makna sebuah kalimat yang dibaca.  Padahal dalam berkomunikasi sehari-hari hampir semua pegawai mampu berbahasa sunda. Ketujuh, penulis melihat para tokoh kesundaan usianya sudah semakin senja, tetapi disisi lain belum terlihat bibit muda yang akan menggantikannya, tetapi mudah-mudahan saja segera tergantikan.  Dalam hal ini pendidikan atau pengajaran tentang kesundaan harus didukung dengan lingkungan yang juga bisa menghargai segala sesuatu tentang kesundaan. Tujuh contoh diatas tidaklah menunjukan urutan yang hierarkis, hanyalah indikator-indikator yang terlihat dengan kasat mata, tanpa harus dikaji dengan keilmuan yang mendalam.  Tentunya kita berharap budaya sunda tidak akan hanya tinggal kenangan, dan ini adalah tugas kita yang masih mengaku orang sunda untuk tetap melestarikannya.*** Wallahu’alambishawab.