Inu Kencana (IK), itulah nama yang selalu menjadi sangat populer ketika terjadi kasus di IPDN yang dulu bernama STPDN, walaupun mungkin popularitas bukanlah tujuannya. IK adalah dosen senior IPDN yang memang selalu berani mengungkap kondisi kampus tempatnya mengajar dengan jujur dan berani, ketika anak-anak didik dan rekan kerjanya selalu melakukan Gerakan Tutup Mulut (GTM), bahkan kepada orang sekaliber Wakil Presiden Jusup Kala.

Pernyataan-pernyataan IK dimedia selalu membuat merah telinga orang-orang yang disentilnya, sehingga tidak jarang IK mendapat teror yang tidak mengenakan. Fakta mengejutkan yang diungkapnya adalah jumlah praja IPDN yang meninggal karena kekerasan bukan hanya 3 tetapi 35. Pernyataan yang cukup membuat kaget semua orang, karena ternyata nyawa menjadi sesuatu yang sangat murah di IPDN.

Tetapi ternyata kejujuran IK harus dibayar mahal, IK diberhentikan sebagai pengajar di IPDN meskipun sekarang sudah diaktifkan kembali. Sebenarnya apa yang ada dibalik ini ? apakah IK tidak dapat memberikan kesaksian dengan tetap aktif mengajar ? padahal dalam kasus ini IK bukan sebagai tersangka yang harus menjalani masa tahanan, artinya IK masih dapat melakukan aktivitas mengajarnya. Yang pasti ada unsur sentimen dari pimpinan IPDN.

Orang jujur di negeri ini adalah manusia langka yang keberadaannya harus dilindungi dengan Undang-Undang, walaupun pada kenyataannya orang jujur harus selalu menelan pil pahit dengan menyandang gelar manusia tersisih. Menjadi manusia memang serba salah, seperti sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh grup band SLANK, ”Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah”. Jadi sebenarnya ada dimana kebenaran ?

Bait syair yang dipopulerkan SLANK tersebut kini terjadi juga di IPDN, hal ini sedang dialami oleh IK yang berbicara dengan jujur, tetapi dianggap salah oleh orang sekelilingnya. Tetapi tentunya IK juga tidak mau berbohong dengan kondisi yang ada, karena bohong juga adalah pekerjaan yang jelas-jelas salah. IK seolah-olah menjadi orang aneh ditengah orang-orang yang sebenarnya lebih aneh, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah orang aneh.

Dinding baja IPDN sedikit-sedikit mulai runtuh dengan kejujuran IK, aktivitas IPDN yang selama ini berada diwilayah remang-remang mulai bergeser menjadi sedikit lebih terang. Hanya saja masih ada orang dalam IPDN yang masih tidak ingin kampusnya berubah, bahkan dalam keterangan pers-nya IK menyebutkan ada dosen yang setuju kekerasan dipertahankan dengan alasan untuk menguji fisik, dan yang mati itu adalah orang yang tidak kuat. Sebuah pernyataan yang tidak layak dikeluarkan oleh seorang dosen yang pasti memiliki intelektual tinggi.

Jika dianalogikan dengan penyanyi, saat ini IK sedang menjalani solo karir, IK memutuskan untuk keluar dari vokal grup yang sebelumnya ia termasuk didalamnya. Hanya solo karir yang dijalani IK akan menghadapi dua alternatif hasil, yaitu :

Pertama, masyarakat suka dengan nyanyian IK, sehingga IK menjadi penyanyi yang bisa dijual, dengan kata lain karir IK akan semakin menanjak setelah ia memutuskan bersolo karir.

Kedua, masyarakat tidak suka dengan nyanyian IK, sehingga IK menjadi penyanyi yang tidak digemari, dengan kata lain karir IK akan semakin jatuh setelah ia memutuskan bersolo karir.

Saat ini alternatif yang kedua yang lebih menonjol, IK diberhentikan sebagai dosen walaupun setelah banyak desakan akhirnya kembali diaktifkan. Sepertinya IPDN tidak suka dengan nyanyian IK, berarti nyanyian IK selama ini bertolak belakang dengan selera pasar yang ada di IPDN. Bahkan sebutan “sok alim” atau “sok suci” melayang kepadanya. Yang jadi masalah tinggal keputusan IK untuk memilih jalan yang ditempuh, apakah akan mengikuti selera pasar sehingga nyanyiannya akan disukai masyarakat, atau akan tetap menjadi penyanyi idealis yang walaupun pasar tidak suka tetapi tetap berkarya demi idealismenya.

IK hanyalah satu contoh sosok jujur yang mengalami nasib kurang menguntungkan, karena mendapatkan perlawanan dari sekelilingnya. Jika kita bicara dalam lingkup yang lebih luas, kejujuran memang menjadi sesuatu yang mahal di negeri ini, bahkan setelah reformasi kehidupan berkejujuran tidak menjadi lebih baik. Hal ini terbukti masih banyaknya kasus-kasus KKN yang semakin menggila, yang mengindikatorkan bahwa kata jujur adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit ditemukan.

Ketidakjujuran yang tidak abadi

Kata seorang filusuf yang sama sekali tidak terkenal, Ketidakjujuran sudah ada sejak manusia ada dan akan ada selama manusia itu ada. Sejarah turunnya adam ke dunia adalah karena ketidakjujurannya kepada Tuhan dengan memakan buah khuldi, walaupun semua orang pasti percaya bahwa ketidakjujuran adam adalah salah satu skenario Tuhan, yang pasti dalam riwayat ini seolah-olah Tuhan ingin menunjukan bahwa ketidakjujuran adalah salah satu sifat buruk manusia.

Lalu mengapa manusia begitu menyenangi ketidakjujuran ? jawabannya karena ketidakjujuran sangat menyenangkan. Dari mulai pedagang yang tidak jujur, sampai dengan pejabat yang tidak jujur sangat merasakan nikmatnya ketidakjujuran. Sifat manusia yang materialistis menjadi titik awal dari ketidakjujuran.

Manusia merasa menjadi pemenang setelah menikmati hasil dari ketidakjujurannya dan menganggap bahwa ketidakjujuran itu sangat penting bagi dirinya, karena jika ia berlaku jujur maka buah dari ketidakjujuran akan dinikmati orang lain. Dunia ini mungkin adalah tempat yang tepat untuk menikmati ketidakjujuran, karena dihari akhir nanti mustahil manusia bisa menikmati ketidakjujurannya.

Banyak manusia lupa, ketika sekali saja ia berlaku tidak jujur, maka ia akan menutupi ketidakjujuran itu dengan ketidakjujuran-ketidakjujuran yang lain, dan secara tidak sadar ia tengah menggali liang kuburnya sendiri. Selamat menikmati ketidakjujuran, dan selamat menggali liang kubur sendiri, bagi para pelaku ketidakjujuran.