Belakangan ini kata TORCH sepertinya semakin populer saja , atau mungkin karena saya yang baru tahu tentang TORCH.  Namun yang pasti TORCH yang merupakan singkatan dari Toxoplasma, Rubela, Cytomegallo dan herpes adalah sebuah penyakit infeksi yang sangat berbahaya, terutama bila menyerang ibu hamil.  Dampaknya mengerikan sekali, dari mulai keguguran, anak lahir cacad, bisu tuli, hydrocepalus, dan segudang dampak lainnya yang sangat mengerikan.

Saya mulai tertarik mencari info-info tentang TORCH ketika istri saya keguguran pada akhir desember 2007 lalu, padahal kehamilan itu adalah kehamilan pertama setelah 2 tahun menunggu.  Awalnya saya menduga bahwa penyebabnya adalah karena istri saya kelelahan, maklum dia adalah seorang pekerja yang sehari-hari bekerja dengan otaknya.  Menurut dokter kandungan, wanita yang bekerja dengan otak sebenarnya lebih rentan keguguran dari pada yang bekerja dengan mengandalkan fisik.  Saya  sedikit lega ketika hasil curretage menunjukan rahimnya bersih tidak ada kangker atau penyakit lainnya.

Kemudian dokter menyarankan agar melakukan tes darah untuk mengetahui apakah terjadi infeksi TORCH pada istri penulis.  Sedikit mengagetkan, selain biayanya yang cukup mahal (hampir 1,3 juta) untuk ukuran saya yang seorang PNS hasilnya juga menunjukkan bahwa istri saya positif terinfeksi TORCH, dengan hasil IgM anti toxo (+), IgG anti toxo (+), IgM anti Rubela (-), IgG anti Rubela (+), IgM anti CMV (-) dan IgG anti CMV (+).

 Terus terang saja saya sedikit bingung, semua artikel yang ada saling bertolak belakang.  Dari artikel yang saya baca dan hasil konsultasi dengan dokter kandung, jika kita mengartikan secara medis, IgG (+) berarti pernah terjadi infeksi pada istri saya dan istri saya sudah punya kekebalannya, dokter menganalogikan dengan penyakit cacar air yang tidak akan menyerang manusia 2 kali.  Sedangkan IgM (+) artinya infeksi sedang terjadi atau baru saja terjadi, hal inilah yang harus diwaspadai.

Permasalahannya, jika melihat hasil diatas semua IgG istri saya bernilai (+) artinya istri saya sudah mempunyai kekebalan, tetapi kenapa istri saya masih bisa keguguran.  Berdasarkan hal itu saya menyimpulkan bahwa walaupun IgG (+) tidak serta merta seseorang kebal terhadap TORCH.  Yang mengecewakan sang dokter juga tidak bisa menjawab dengan pasti, ketika saya konfrontir dengan artikel-artikel yang saya baca.  Dokter hanya memberikan contoh bahwa banyak kasus-kasus TORCH pada ibu hamil yang berhasil melahirkan dengan anak yang sehat sambil 1/2 memberikan semangat pada saya.  Dokter itu lupa bahwa kecanggihan teknologi membuat pasien lebih cepat tahu tentang penyakit yang dideritanya.

Dari hasil baca-baca artikel, saya akhirnya menemukan kasus yang sama, ada seorang ibu yang pada tes darah pertama dinyatakan IgM (-) dan IgG (+), kemudian oleh dokter ia diijinkan untuk hamil, tetapi pada usia kehamilan beberapa minggu ia keguguran.  Setelah itu ia kembali melakukan tes darah, yang mengejutkan hasilnya IgM tetap (-) sedangkang IgG tetap (+) dengan nilai yang bertambah.  Cukup mengherankan bagi saya yang awam dengan dunia medis, jika kemudian dunia medis menganggap bahwa IgG (+) adalah kekebalan terhadap TORCH.

Akhirnya saya menemukan buku tentang TORCH, yang ditulis oleh Prof. Juanda.  Pengalaman istri Prof. Juanda yang mengalami infeksi Toxo dengan IgM (-) dan IgG (+ 3.200) menyebabkan sang istri selalu gagal hamil.  Dari hasil penelusuran artikel, saya akhirnya sepakat dengan Prof. Juanda bahwa dunia medis belum sepenuhnya paham dan mengerti dengan penyakit yang satu ini.  Semuanya hanya coba-coba, atau jika kita memakai bahasa sunda semuanya adalah SUSUGANAN, tanpa satu kepastian yang jelas.  Tetapi walaupun demikian sampai saat ini saya tidak pernah putus asa, saya masih melakukan ikhtiar.

Bagi pembaca yang mempunyai pengalaman, anda bisa berbagi melalui blog ini, atau mungkin anda juga seorang dokter, bisa menjelaskan kepada saya dan pembaca lainnya.