8 Tahun 5 Bulan, sebuah waktu yang cukup panjang –bahkan sangat panjang– untuk memperoleh sebuah gelar akademik tingkat strata 1. Namun akhirnya perjalanan panjang itu berakhir juga, 8 Februari 2008 saya dinyatakan lulus sidang skripsi. Jika hanya untuk memperoleh sebuah gelar sarjana, mungkin banyak orang yang meraihnya hanya dalam waktu 4 tahun bahkan 3,5 tahun, tetapi karena satu dan lain hal-saya tidak bisa dan tidak mungkin melakukan itu.

Saya yakin dan percaya bahwa Alloh SWT. selalu sangat tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Permasalahan –walaupun tidak tepat dikatakan masalah– dimulai pada tahun 1999 ketika saya lulus SMU, seperti kebanyakan orang sayapun mengikuti UMPTN (sekarang SPMB) untuk dapat lulus di PTN. Hasilnya cukup mengecewakan, entah kenapa walaupun diatas kertas seharusnya saya bisa lulus, dalam pengumuman tidak ditemukan nama saya. Banyak orang (termasuk guru-guru) yang juga heran, karena pada saat itu saya adalah lulusan terbaik dilingkungan YPDM Pasundan, tapi itulah kenyataannya.

Akhirnya pada tahun yang sama saya diterima di D3 Politeknik Negeri Bandung (d/h Politeknik ITB), dan lulus tepat waktu pada tahun 2002, Sampai disini 3 tahun sudah saya kuliah. Dengan berbekal idealisme saya menolak ketika orang tua menawarkan untuk melanjutkan kuliah di Universias Padjadjaran, dengan ijazah D3 yang saya miliki saya tidak ingin kembali menjadi beban orang tua.

Ternyata hidup tak selamanya mulus, selalu saja ada cobaan dan ujian, dan saya meyakini bahwa Alloh SWT. hanya menguji hambanya yang mampu. Setelah lulus D3, cukup lama juga saya tidak mendapat pekerjaan, nama besar almamater seolah tidak sanggup membantu saya dalam mencari kerja, bahkan dalam beberapa seleksi saya harus mengakui keunggulan orang lain yang lulus bukan dari perguruan tinggi yang levelnya masih dibawah almamater saya.

Pada bulan ketujuh masa pengangguran (Tahun 2003), saya sampai pada titik terlemah –beruntung juga saya tidak sampai depresi–, yang pada waktu itu saya merasa bahwa diri saya sangat tidak berguna. Pagi sarapan, tidur lagi, bangun agak siang, nonton TV, baca koran, cari lowongan, makan siang, tidur siang, kadang-kadang jalan-jalan, pulang malam, tidur lagi. Itulah rutinitas yang saya jalani. Sampai akhirnya saya mengalami sebuah mimpi buruk dalam tidur siang saya, dalam mimpi itu saya digambarkan seperti orang yang stess berat dan tidak berguna.

Dengan usaha yang lebih gencar, akhirnya dapat juga pekerjaan. Pekerjaan pertama saya adalah sebagai tenaga marketing di lembaga pendidikan bahasa inggris yang hampir bangkrut, bingung juga mempromosikan lembaga yang diambang kehancuran, dan pada waktu itu hitungan matematis menunjukan bahwa lembaga itu hanya dapat bertahan dalam hitungan bulan saja. Ternyata Alloh maha pengasih, belum genap 1 bulan saya bekerja sudah ada panggilan kerja lagi.

Singkat cerita saya diterima bekerja sebagai Penyiar di sebuah radio islam di Bandung, gajinya memang tidak terlalu besar, tetapi penghasilan bisa dibilang cukup untuk saya yang masih bujangan, karena seperti penyiar-penyiar yang lain- selalu ada job-job lain diluar pekerjaan rutin. Pekerjaannya sangat menyenangkan, wawasan bertambah, pengalaman semakin banyak, relasi bertambah, dan yang pasti waktunya tidak terlalu mengikat, dan pada tahun 2003 juga saya melanjutkan kuliah di STIE Pelita Nusantara Bandung Jurusan Akuntansi.

Pada akhir 2004 saya mencoba mengadu nasib untuk mengikuti testing CPNS, walaupun dengan pikiran kotor dan apriori terhadap pemerintahan. Terus terang saja pada waktu itu modal saya hanya iseng-iseng berhadiah, karena saya menyangka bahwa untuk menjadi PNS mustahil tanpa mengeluarkan uang yang jumlahnya puluhan juta. Namun hasilnya cukup mengejutkan, dalam pengumuman kelulusan nama saya tercantum sebagai salah satu peserta yang lulus seleksi, tanpa terasa air matapun menetes.

Dengan alasan aturan kepegawaian, pada awal tahun 2005 studi sayapun kembali terhenti –padahal hanya tinggal 1 semester saja–. pada tahun yang sama saya juga memutuskan untuk menikah, lengkap sudah peran saya sebagai laki-laki dewasa, punya pekerjaan dan punya keluarga.

Kemudian pada pertengahan 2006 saya kembali melanjutkan studi saya yang tertunda, saya bertekad ini adalah kampus terakhir saya dijenjang S1. STIE Pasundan menjadi pilihan saya, dengan alasan akreditasi yang memadai, lokasi mudah dijangkau dari tempat tinggal saya yang masih numpang di rumah mertua, fasilitas yang representative, dan latar belakang saya yang juga keluarga besar Paguyuban Pasundan.

Setelah kurang lebih 1,5 tahun akhirnya lulus juga saya jadi sarjana. sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan, tetapi ketika sarjana-sarjana lain masih berjuang berebut peluang keraja yang memang sangat sedikit, saya akan segera diwisuda dengan mengantongi pekerjaan tetap dan surat nikah resmi dari KUA.

ha..ha..ha.. inilah kenikmatan hidup. sebuah kondisi yang tidak pernah saya bayangkan sebelum. Hikmahnya jangan pernah mengeluh dengan apapun yang terjadi, tugas kita hanyalah berikhtiar optimal, hasilnya terserah Alloh. Alloh selalu punya rahasia besar dibalik apapun yang terjadi.

Wallohu’alam bishowab.