Krisis multidimensi telah membawa bangsa indonesia pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Fenomena yang belakangan muncul dimedia adalah bencana alam yang tak henti-henti, gizi buruk dan kelaparan. Fenomena terakhirlah yang melatarbelakangi ombig menyusun tulisan ini.

Kejadian-kejadian diatas tentu saja tidak menimpa seluruh rakyat Indonesia, karena masih begitu banyak masyarakat Indonesia yang memadati pusat-pusat pertokoan, makan di restoran mewah, hilir mudik dengan mobil harga miliaran, bahkan menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Tetapi disisi lain tidak sedikit masyarakat Indonesia yang hidupnya sangat mirip syair lagu dangdut delapan puluhan, yaitu : “baju satu kering dibadan”, “pagi makan sore tiada”, “rumah beralas bumi beratap langit”.

2 kondisi yang kontradiktif diatas pada akhirnya membawa pada 2 jenis kematian yang menimpa masyarakat Indonesia.

Pertama, mati kekenyangan. Jika kita hitung berapa banyak orang Indonesia yang mati karena penyakit yang disebabkan makanan-makanan enak yang dimakan berlebihan, seperti diabetes, stroke, darah tinggi, dll.

Kedua, mati kelaparan. Fenomena inilah yang sangat membuat hati ombig terkejut dan meratapi kenyataan bahwa di Indonesia yang ceritanya sudah 63 tahun merdeka, yang wakil rakyatnya digaji puluhan juta rupiah, yang alamnya disebut sebagai jamrud khatulistiwa, yang tongkat kayupun bisa jadi tanaman, tetapi pada kenyatannya ada rakyatnya yang mati kelaparan. Sepertinya peribahasa ayam mati dilumbung padi sedang terjadi pada Indonesia.

Sulit juga mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi yang pasti setiap rakyat Indonesia berhak mendapatkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Jika kita menganalogikan dengan sistem militer, tidak pernah ada prajurit yang salah, jika ada prajurit yang salah maka dapat disimpulkan bahwa komandannyalah yang paling salah. Dalam kasus mati kelaparan kita tidak bisa menutup mata bahwa pemerintah adalah pihak yang paling salah. Mohon maaf dalam kasus ini ombig tidak bisa berkompromi, jika ada yang berpendapat lain, ombig tetap berpendirian bahwa pemerintah yang paling salah.