Mungkin anda berbeda pendapat dengan ombig, tentu saja tidak apa-apa, ombig hanya ingin berbagi pendapat yang mudah-mudahan bisa bermanfaat. Jiwa kritis ombig sudah tumbuh sejak kecil, pada usia 4 tahun ombig kerap kali membuat orang dewasa kesal karena ombig memberikan pertanyaan yang berantai.

Saat itu ibu ombig aktif di Darma Wanita, karena bapak ombig adalah seorang PNS. Berawal dari itu muncul pertanyaan yang ombig tanyakan kepada ibu : “kenapa ada darma wanita sementara tidak ada darma pria, padahal perempuan yang PNS banyak juga”, tapi tentu saja dengan bahasa seorang anak kecil. Sampai saat ini tidak pernah ada jawaban memuaskan yang keluar dari mulut ibu ombig.

Dalam kesempatan ini ombig ingin memberikan pertanyaan, bagi para pembaca dapat juga turut menjawabnya di halaman komentar.

Pertama, dilingkungan PNS, mengapa ada DARMA WANITA tetapi tidak ada DARMA PRIA, padahal banyak sekali wanita yang jadi PNS.

Kedua, dilingkungan TNI, mengapa ada PERSIT tetapi tidak ada PERSUT (Persatuan Suami Tentara), padahal banyak juga wanita yang jadi tentara.

Ketiga, banyak organisasi wanita bermunculan tetapi tidak pernah ada satu organisasipun yang mengkhususkan diri sebagai organisasi pria.

Keempat, dengan alasan isu gender wanita menuntut jatah kursi di parlemen, pria tidak pernah menuntut jatah kursi.

ini pendapat saya :

Pertama, wanita lebih mudah dimobilisasi secara politik dari pada pria, Pemerintahan Orde Baru sangat pandai membaca situasi ini, sehingga dibuatlah Darma Wanita dengan segala kewajibannya, dari mulai wajib kursus P4 sampai dengan wajib coblos nomor 2. andai saja dibentuk Darma Pria, pasti akan lebih sulit menuntut kewajiban-kewajiban tersebut.

Kedua, tidak beda jauh dengan Darma Wanita, itu pula yang menimpa PERSIT.

Ketiga, Organisasi wanita juga tidak jauh beda, kebanyakan tujuannya sangat politis.

Keempat, menuntut jatah kursi di parlemen sama saja menunjukan bahwa wanita belum mampu bersaing secara murni. Alasan gender sangat tidak tepat dijadikan alasan untuk menuntut jatah kursi di parlemen, seharusnya gender menjadikan wanita-wanita aktivis itu lebih siap bersaing secara murni dengan laki-laki.

Dan yang pasti takdir Alloh tidak pernah salah, jangan pernah menyalahi takdir.